Oleh: Supar, S.Pd.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Hikmah
Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam yang sarat dengan nilai keimanan, ketauhidan, serta pendidikan akhlak. Peristiwa ini bukan hanya mukjizat Rasulullah ﷺ, tetapi juga menjadi pelajaran besar bagi umat Islam, khususnya bagi dunia pendidikan dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah.
Isra Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ. Setelah wafatnya istri tercinta Sayyidah Khadijah r.a. dan pamannya Abu Thalib, Rasulullah ﷺ menghadapi berbagai tekanan, penolakan, dan penderitaan. Dalam kondisi inilah Allah SWT memberikan penghiburan dan penguatan melalui peristiwa Isra Mi’raj. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa di balik setiap ujian, selalu ada pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang sabar dan istiqamah.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isra’: 1)
Ayat tersebut menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa nyata atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Rasulullah ﷺ diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra), kemudian dinaikkan ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Dalam perjalanan itu, Rasulullah ﷺ menyaksikan berbagai tanda kebesaran Allah yang semakin meneguhkan keimanan beliau dalam menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia. Hikmah terbesar dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diwajibkannya shalat lima waktu. Shalat merupakan ibadah utama yang menjadi tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda “Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Kewajiban shalat yang diterima langsung oleh Rasulullah ﷺ tanpa perantara malaikat menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang Muslim. Dalam dunia pendidikan madrasah, shalat tidak hanya dipahami sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan ketundukan kepada aturan.
Isra Mi’raj juga mengajarkan nilai keimanan yang kokoh dan kejujuran dalam menyampaikan kebenaran. Ketika Rasulullah ﷺ menceritakan peristiwa Isra Mi’raj kepada kaum Quraisy, banyak yang meragukannya. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dengan penuh keyakinan membenarkan Rasulullah ﷺ tanpa keraguan sedikit pun. Dari sinilah kita belajar bahwa iman sejati adalah iman yang tidak goyah meskipun berhadapan dengan hal-hal yang sulit diterima oleh akal manusia.
Bagi peserta didik MI Al-Hikmah, peristiwa Isra Mi’raj menjadi teladan penting dalam menumbuhkan sikap taat kepada Allah SWT, patuh kepada guru dan orang tua, serta semangat dalam menuntut ilmu. Rasulullah ﷺ adalah pendidik terbaik sepanjang zaman yang mengajarkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan, keimanan, dan akhlak mulia. Madrasah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut sejak usia dini.
Isra Mi’raj juga mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari harta, jabatan, atau kedudukan duniawi, melainkan dari ketakwaan dan ketaatan kepada-Nya. Nilai ini hendaknya menjadi motivasi bagi seluruh warga madrasah untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik dalam ibadah maupun dalam prestasi belajar.
Sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Hikmah, saya mengajak seluruh dewan guru, peserta didik, dan orang tua untuk menjadikan momentum peringatan Isra Mi’raj sebagai sarana introspeksi diri. Mari kita perkuat shalat, perbaiki akhlak, serta tingkatkan kepedulian terhadap pendidikan anak-anak kita. Dengan meneladani Rasulullah ﷺ, insyaAllah MI Al-Hikmah akan melahirkan generasi yang cerdas, beriman, dan berakhlakul karimah.
Semoga peringatan Isra Mi’raj ini semakin meneguhkan keimanan kita dan membawa keberkahan bagi keluarga besar MI Al-Hikmah serta seluruh umat Islam. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Beri Komentar